Wednesday, August 18, 2010

Jangan Kau Tanyakan

jangan kau tanyakan
kenapa aku memanggil namamu
karena pasti aku tak tau kenapa begitu
aku ingin menyapa dan mendengarmu
berbagi cerita tentang hari-harimu
aku ingin menyapamu
tanpa berdalih ingin ini dan itu
karena kini aku hanya ingin menyapamu
dan mendengar cerita-ceritamu

Jepara, 17 Agustus 2010


Tuesday, July 20, 2010

Malam Dan Bulan Sabit Putih

bulan sabit berwarna putih
dengan bintang-bintang bertaburan di sekelilingnya
aku ketuk pintu kayu yang mulai ringkih
dengan ucapan salam menyelingi ketukannya

tok tok tok
assalamu’alaikum,
di jeda waktu itu,
keheningan mencekamku
beberapa serangga malam
ternyata masih mendapat tempat
untuk bernyanyi
dan selembar daun yang jatuh
menyuarakan langkah kaki tanpa sosoknya

tok tok tok
assalamu’alaikum, mak,
aku menunggu jawaban dari balik pintu tua itu
kayu lapis yang menutupnya dari keroposnya kayu
pun tlah terberai dari lapis demi lapisnya
sepasang itik yang tak masuk ke dalam kandang
mengejutkanku saat mendenguskan nafas dari paruhnya,
pertanda dia mulai terusik dengan kedatanganku itu

langit masih berhiaskan gemintang yang indah
bahkan untuk sekedar dinikmati bersama kesendirian
karena rinduku pun kini tak tau kemana harus menempuh jalannya
hatiku mulai gelisah, karena rinduku selalu menikmati
bulan sabit dan gemintangnya pun dalam kesendirian
tanpa mengerti kapan akan ada waktu untuk menikmatinya bersama

bulan sabit itu masih tetap menyinari kegelapan malam
pun dengan bintang-bintangnya
sebelum ku langkahkan kaki meninggalkan teras itu
ku sempatkan sekali lagi untuk mengetuk pintu itu
tok tok tok
assalamu’alaikum
dan aku langkahkan kaki berbalik arah
meninggalkan depan pintu tua itu

kita tak ditakdirkan untuk bertemu malam ini
dan suatu saat, kita akan bertemu lagi
atas kehendaknya, juga nikmat darinya
dalam kesempatan yang akan lebih indah

sementara kerinduanku, tak lagi mampu
untuk sekedar menghayalkan wajahmu
atau menyimpan bisik suaramu
untuk menjadi penawar rindu
disaat hujan kembali menyegarkan perjalananku
sebelum sampai paraduanku
dimana aku akan menunggumu
dengan segenap cinta dan kerinduanku padamu

Jepara, 16 Juli 2010


Wednesday, June 16, 2010

Sawah, Petani

petani itu masih menatapsawahnya
mendung masih tetap menggantung
dan sesekali merintikan gerimis

petani itu masih menatap sawahnya
telur-telur itu mulai menetas
menjadi serbuk putih
yang melekat di batang-batang padi
hari demi hari, serbuk putih semakin memanas
batang-batang padi pun layu
oleh serbuk putih yang berubah hijau kecoklatan
dan menyebar hampir seluruh lahan persawahan

petani itu masih memandang sawahnya
kosong, tak ada apa dilakukan

berliter-liter pestisida tlah disemprotkan
laksana gerimis pagi ini
namun, seluruh batang padi tlah layu
tinggal jerami yang mengering
tanpa hasil yang bisa dipanen
bahkan sebulir padi yang tertinggal
lebih dulu menjadi santapan burung pipit
yang hampir kelaparan

Jepara, Juni 2010

Monday, June 07, 2010

Sungai Mati

awan ini tak segera menjelma rintik
menjadi gerimis yang sangat dirindukan para petani
meski hujan baru saja pergi
setelah senja kemarin meninggalkan terik

dan kini awan yang menutup seluruh sinar mentari
tak lagi menjadi teman petani
saat lumpur sawah mulai memecah dan melukai kaki

pagi ini, seorang petani
dengan tangki penyemprot hama dipunggungnya
hanya berdiri memandang sawahnya
tatapnya kosong
karena sungai mereka tlah mati

Jepara, Juni 2010

Friday, June 04, 2010

Aku Takut

entah sejak kapan adu pandang ini
hari demi hari
yang terus merajut tatap mata berikutnya

tatap mata itu serasa belati
yang menghujam di hati
aku tak kuasa untuk terus memandangnya
saat adu pandang kita bersama

aku tak kuasa menatap mata itu
aku tak mampu memandang wajahmu
karena aku takut,
aku takut jatuh cinta padamu

Jepara, Juni 2010


Tuesday, May 25, 2010

Suatu Pagi Di Perkampungan Nelayan

di wajah itu, masih tergurat keletihan
kantuk pun masih menggelayuti perasaan
usai membersihkan diri dan sembahyang di waktu subuh
dia tunggui bocah yang belajar
mengeja, kata demi kata dalam buku catatannya
kelelahan setelah menarik jala ditahannya
sambil sesekali mengajarkan jawaban
dari pekerjaan rumah anaknya
sementara itu, guguran kembang jambu
menjadi penyaksi semangat itu

di rumah belakang, asap mengepul
dari tungku yang dinyalakan ibu
menyiapkan minuman hangat untuk suami
juga sarapan untuk anak-anaknya
tak ada sepotong pizza ataupun roti
karena hanya ada nasi dan ikan asin
dilengkapi sambal yang lengket dalam cobek batu
tapi, semangat yang terpancar setiap pagi itu
yang akan merubah negeri ini

Perkampungan Nelayan Jobo Kutho Jepara,
Di Hari Kebangkitan Nasional 2010




Thursday, May 06, 2010

Kabar Kematian

angin gurun tiba-tiba mendesau dengan begitu berat
membawa gairah gersang yang pengap
seolah ingin merayu setiap manusia
pada keputusasaan akan gairah hidup

kabar kematian itu pun terdengar begitu dekat
dan segera menyebar terbawa angin yang merayap
datang dan terus datang bertubi-tubi
mendekat dan membelai hati yang takutkan kematian
namun kabar kematian itu terus mendekati setiap insan
tanpa peduli lagi usia juga kelamin

kabar kematian itu terus terdengar
tak peduli waktu,
pagi,
siang,
sore,
bagai suara azan yang mengabarkan panggilan tuhan
bahkan tengah malam pun
dia terus menghampiri
satu demi satu mereka yang tlah tiba waktunya

dan kini, kabar kematian itu
seolah terdengar sangat dekat di telinga
dan membelai denyut nadi leher
sedangkan malaikat pun terus berkeliling di sekitar kita
dan hanya waktu saja yang akan tetapkan semuanya

Jepara, Mei 2010