jangan kau tanyakan
kenapa aku memanggil namamu
karena pasti aku tak tau kenapa begitu
aku ingin menyapa dan mendengarmu
berbagi cerita tentang hari-harimu
aku ingin menyapamu
tanpa berdalih ingin ini dan itu
karena kini aku hanya ingin menyapamu
dan mendengar cerita-ceritamu
Jepara, 17 Agustus 2010
Suatu saat ketika salju mencair, maka beribu mata air akan mengaliri tanah tandus dan padang gersang. Dan saat mata air itu muncul, maka kehidupan akan senantiasa ada. Begitulah, dan ketika tulisan-tulisan yang ada di sini bermanfaat bagi pembaca adanya, itulah kehidupan dari tulisan ini. Karena kehidupan sebuah ide dan pemikiran adalah ketika tulisan itu dapat memberi inspirasi, motivasi kepada pembacanya... dan ini akan memberi hidup bagi kita...
Wednesday, August 18, 2010
Tuesday, July 20, 2010
Malam Dan Bulan Sabit Putih
bulan sabit berwarna putih
dengan bintang-bintang bertaburan di sekelilingnya
aku ketuk pintu kayu yang mulai ringkih
dengan ucapan salam menyelingi ketukannya
tok tok tok
assalamu’alaikum,
di jeda waktu itu,
keheningan mencekamku
beberapa serangga malam
ternyata masih mendapat tempat
untuk bernyanyi
dan selembar daun yang jatuh
menyuarakan langkah kaki tanpa sosoknya
tok tok tok
assalamu’alaikum, mak,
aku menunggu jawaban dari balik pintu tua itu
kayu lapis yang menutupnya dari keroposnya kayu
pun tlah terberai dari lapis demi lapisnya
sepasang itik yang tak masuk ke dalam kandang
mengejutkanku saat mendenguskan nafas dari paruhnya,
pertanda dia mulai terusik dengan kedatanganku itu
langit masih berhiaskan gemintang yang indah
bahkan untuk sekedar dinikmati bersama kesendirian
karena rinduku pun kini tak tau kemana harus menempuh jalannya
hatiku mulai gelisah, karena rinduku selalu menikmati
bulan sabit dan gemintangnya pun dalam kesendirian
tanpa mengerti kapan akan ada waktu untuk menikmatinya bersama
bulan sabit itu masih tetap menyinari kegelapan malam
pun dengan bintang-bintangnya
sebelum ku langkahkan kaki meninggalkan teras itu
ku sempatkan sekali lagi untuk mengetuk pintu itu
tok tok tok
assalamu’alaikum
dan aku langkahkan kaki berbalik arah
meninggalkan depan pintu tua itu
kita tak ditakdirkan untuk bertemu malam ini
dan suatu saat, kita akan bertemu lagi
atas kehendaknya, juga nikmat darinya
dalam kesempatan yang akan lebih indah
sementara kerinduanku, tak lagi mampu
untuk sekedar menghayalkan wajahmu
atau menyimpan bisik suaramu
untuk menjadi penawar rindu
disaat hujan kembali menyegarkan perjalananku
sebelum sampai paraduanku
dimana aku akan menunggumu
dengan segenap cinta dan kerinduanku padamu
Jepara, 16 Juli 2010
dengan bintang-bintang bertaburan di sekelilingnya
aku ketuk pintu kayu yang mulai ringkih
dengan ucapan salam menyelingi ketukannya
tok tok tok
assalamu’alaikum,
di jeda waktu itu,
keheningan mencekamku
beberapa serangga malam
ternyata masih mendapat tempat
untuk bernyanyi
dan selembar daun yang jatuh
menyuarakan langkah kaki tanpa sosoknya
tok tok tok
assalamu’alaikum, mak,
aku menunggu jawaban dari balik pintu tua itu
kayu lapis yang menutupnya dari keroposnya kayu
pun tlah terberai dari lapis demi lapisnya
sepasang itik yang tak masuk ke dalam kandang
mengejutkanku saat mendenguskan nafas dari paruhnya,
pertanda dia mulai terusik dengan kedatanganku itu
langit masih berhiaskan gemintang yang indah
bahkan untuk sekedar dinikmati bersama kesendirian
karena rinduku pun kini tak tau kemana harus menempuh jalannya
hatiku mulai gelisah, karena rinduku selalu menikmati
bulan sabit dan gemintangnya pun dalam kesendirian
tanpa mengerti kapan akan ada waktu untuk menikmatinya bersama
bulan sabit itu masih tetap menyinari kegelapan malam
pun dengan bintang-bintangnya
sebelum ku langkahkan kaki meninggalkan teras itu
ku sempatkan sekali lagi untuk mengetuk pintu itu
tok tok tok
assalamu’alaikum
dan aku langkahkan kaki berbalik arah
meninggalkan depan pintu tua itu
kita tak ditakdirkan untuk bertemu malam ini
dan suatu saat, kita akan bertemu lagi
atas kehendaknya, juga nikmat darinya
dalam kesempatan yang akan lebih indah
sementara kerinduanku, tak lagi mampu
untuk sekedar menghayalkan wajahmu
atau menyimpan bisik suaramu
untuk menjadi penawar rindu
disaat hujan kembali menyegarkan perjalananku
sebelum sampai paraduanku
dimana aku akan menunggumu
dengan segenap cinta dan kerinduanku padamu
Jepara, 16 Juli 2010
Wednesday, June 16, 2010
Sawah, Petani
petani itu masih menatapsawahnya
mendung masih tetap menggantung
dan sesekali merintikan gerimis
petani itu masih menatap sawahnya
telur-telur itu mulai menetas
menjadi serbuk putih
yang melekat di batang-batang padi
hari demi hari, serbuk putih semakin memanas
batang-batang padi pun layu
oleh serbuk putih yang berubah hijau kecoklatan
dan menyebar hampir seluruh lahan persawahan
petani itu masih memandang sawahnya
kosong, tak ada apa dilakukan
berliter-liter pestisida tlah disemprotkan
laksana gerimis pagi ini
namun, seluruh batang padi tlah layu
tinggal jerami yang mengering
tanpa hasil yang bisa dipanen
bahkan sebulir padi yang tertinggal
lebih dulu menjadi santapan burung pipit
yang hampir kelaparan
Jepara, Juni 2010
mendung masih tetap menggantung
dan sesekali merintikan gerimis
petani itu masih menatap sawahnya
telur-telur itu mulai menetas
menjadi serbuk putih
yang melekat di batang-batang padi
hari demi hari, serbuk putih semakin memanas
batang-batang padi pun layu
oleh serbuk putih yang berubah hijau kecoklatan
dan menyebar hampir seluruh lahan persawahan
petani itu masih memandang sawahnya
kosong, tak ada apa dilakukan
berliter-liter pestisida tlah disemprotkan
laksana gerimis pagi ini
namun, seluruh batang padi tlah layu
tinggal jerami yang mengering
tanpa hasil yang bisa dipanen
bahkan sebulir padi yang tertinggal
lebih dulu menjadi santapan burung pipit
yang hampir kelaparan
Jepara, Juni 2010
Monday, June 07, 2010
Sungai Mati
awan ini tak segera menjelma rintik
menjadi gerimis yang sangat dirindukan para petani
meski hujan baru saja pergi
setelah senja kemarin meninggalkan terik
dan kini awan yang menutup seluruh sinar mentari
tak lagi menjadi teman petani
saat lumpur sawah mulai memecah dan melukai kaki
pagi ini, seorang petani
dengan tangki penyemprot hama dipunggungnya
hanya berdiri memandang sawahnya
tatapnya kosong
karena sungai mereka tlah mati
Jepara, Juni 2010
menjadi gerimis yang sangat dirindukan para petani
meski hujan baru saja pergi
setelah senja kemarin meninggalkan terik
dan kini awan yang menutup seluruh sinar mentari
tak lagi menjadi teman petani
saat lumpur sawah mulai memecah dan melukai kaki
pagi ini, seorang petani
dengan tangki penyemprot hama dipunggungnya
hanya berdiri memandang sawahnya
tatapnya kosong
karena sungai mereka tlah mati
Jepara, Juni 2010
Friday, June 04, 2010
Aku Takut
entah sejak kapan adu pandang ini
hari demi hari
yang terus merajut tatap mata berikutnya
tatap mata itu serasa belati
yang menghujam di hati
aku tak kuasa untuk terus memandangnya
saat adu pandang kita bersama
aku tak kuasa menatap mata itu
aku tak mampu memandang wajahmu
karena aku takut,
aku takut jatuh cinta padamu
Jepara, Juni 2010
hari demi hari
yang terus merajut tatap mata berikutnya
tatap mata itu serasa belati
yang menghujam di hati
aku tak kuasa untuk terus memandangnya
saat adu pandang kita bersama
aku tak kuasa menatap mata itu
aku tak mampu memandang wajahmu
karena aku takut,
aku takut jatuh cinta padamu
Jepara, Juni 2010
Tuesday, May 25, 2010
Suatu Pagi Di Perkampungan Nelayan
di wajah itu, masih tergurat keletihan
kantuk pun masih menggelayuti perasaan
usai membersihkan diri dan sembahyang di waktu subuh
dia tunggui bocah yang belajar
mengeja, kata demi kata dalam buku catatannya
kelelahan setelah menarik jala ditahannya
sambil sesekali mengajarkan jawaban
dari pekerjaan rumah anaknya
sementara itu, guguran kembang jambu
menjadi penyaksi semangat itu
di rumah belakang, asap mengepul
dari tungku yang dinyalakan ibu
menyiapkan minuman hangat untuk suami
juga sarapan untuk anak-anaknya
tak ada sepotong pizza ataupun roti
karena hanya ada nasi dan ikan asin
dilengkapi sambal yang lengket dalam cobek batu
tapi, semangat yang terpancar setiap pagi itu
yang akan merubah negeri ini
Perkampungan Nelayan Jobo Kutho Jepara,
Di Hari Kebangkitan Nasional 2010
kantuk pun masih menggelayuti perasaan
usai membersihkan diri dan sembahyang di waktu subuh
dia tunggui bocah yang belajar
mengeja, kata demi kata dalam buku catatannya
kelelahan setelah menarik jala ditahannya
sambil sesekali mengajarkan jawaban
dari pekerjaan rumah anaknya
sementara itu, guguran kembang jambu
menjadi penyaksi semangat itu
di rumah belakang, asap mengepul
dari tungku yang dinyalakan ibu
menyiapkan minuman hangat untuk suami
juga sarapan untuk anak-anaknya
tak ada sepotong pizza ataupun roti
karena hanya ada nasi dan ikan asin
dilengkapi sambal yang lengket dalam cobek batu
tapi, semangat yang terpancar setiap pagi itu
yang akan merubah negeri ini
Perkampungan Nelayan Jobo Kutho Jepara,
Di Hari Kebangkitan Nasional 2010
Thursday, May 06, 2010
Kabar Kematian
angin gurun tiba-tiba mendesau dengan begitu berat
membawa gairah gersang yang pengap
seolah ingin merayu setiap manusia
pada keputusasaan akan gairah hidup
kabar kematian itu pun terdengar begitu dekat
dan segera menyebar terbawa angin yang merayap
datang dan terus datang bertubi-tubi
mendekat dan membelai hati yang takutkan kematian
namun kabar kematian itu terus mendekati setiap insan
tanpa peduli lagi usia juga kelamin
kabar kematian itu terus terdengar
tak peduli waktu,
pagi,
siang,
sore,
bagai suara azan yang mengabarkan panggilan tuhan
bahkan tengah malam pun
dia terus menghampiri
satu demi satu mereka yang tlah tiba waktunya
dan kini, kabar kematian itu
seolah terdengar sangat dekat di telinga
dan membelai denyut nadi leher
sedangkan malaikat pun terus berkeliling di sekitar kita
dan hanya waktu saja yang akan tetapkan semuanya
Jepara, Mei 2010
membawa gairah gersang yang pengap
seolah ingin merayu setiap manusia
pada keputusasaan akan gairah hidup
kabar kematian itu pun terdengar begitu dekat
dan segera menyebar terbawa angin yang merayap
datang dan terus datang bertubi-tubi
mendekat dan membelai hati yang takutkan kematian
namun kabar kematian itu terus mendekati setiap insan
tanpa peduli lagi usia juga kelamin
kabar kematian itu terus terdengar
tak peduli waktu,
pagi,
siang,
sore,
bagai suara azan yang mengabarkan panggilan tuhan
bahkan tengah malam pun
dia terus menghampiri
satu demi satu mereka yang tlah tiba waktunya
dan kini, kabar kematian itu
seolah terdengar sangat dekat di telinga
dan membelai denyut nadi leher
sedangkan malaikat pun terus berkeliling di sekitar kita
dan hanya waktu saja yang akan tetapkan semuanya
Jepara, Mei 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)