kau tak mengerti
atau pura-pura tak mengerti
kau tak tau
atau memang tak mau tau
aku sakit
tak hanya sakit hati
karena kehilangan orang tersayang
tapi lebih sakit
karena aku dikhianati
aku ditelikung dari belakang
dan berdalih
atas nama cinta
Jepara, 15 April ‘09
Suatu saat ketika salju mencair, maka beribu mata air akan mengaliri tanah tandus dan padang gersang. Dan saat mata air itu muncul, maka kehidupan akan senantiasa ada. Begitulah, dan ketika tulisan-tulisan yang ada di sini bermanfaat bagi pembaca adanya, itulah kehidupan dari tulisan ini. Karena kehidupan sebuah ide dan pemikiran adalah ketika tulisan itu dapat memberi inspirasi, motivasi kepada pembacanya... dan ini akan memberi hidup bagi kita...
Thursday, April 16, 2009
Thursday, April 09, 2009
Mimpi
mestinya kau melangkah keluar rumah
mengejar matahari yang selama ini
hanya bayangnya yang kau temukan di tanah
inilah saatnya
ketika daun-daun mulai kering
karena gerimis tak lagi membasuhnya
mestinya kau mulai kembali merangkai mimpi
tentang kenangan dan pengharapan
meski terkadang redup,
tapi mentari kan selalu menemani
datanglah
selagi hujan belum benar-benar pergi
dan kau masih bisa kumpulkan tetesan embun
sebagai bekal perjalananmu
datanglah
dengan segenggam cintamu
dan semailah seiring angin senja
yang mengantarkan pada ladang hati perempuanmu
datanglah
datanglah sebelum kau kehilangan waktu
dan gerimis benar-benar telah habis
Jepara, 9 April ‘09
2.16
mengejar matahari yang selama ini
hanya bayangnya yang kau temukan di tanah
inilah saatnya
ketika daun-daun mulai kering
karena gerimis tak lagi membasuhnya
mestinya kau mulai kembali merangkai mimpi
tentang kenangan dan pengharapan
meski terkadang redup,
tapi mentari kan selalu menemani
datanglah
selagi hujan belum benar-benar pergi
dan kau masih bisa kumpulkan tetesan embun
sebagai bekal perjalananmu
datanglah
dengan segenggam cintamu
dan semailah seiring angin senja
yang mengantarkan pada ladang hati perempuanmu
datanglah
datanglah sebelum kau kehilangan waktu
dan gerimis benar-benar telah habis
Jepara, 9 April ‘09
2.16
Thursday, March 26, 2009
Malam Bertensi Tinggi
malam semakin terasa aneh
udara tak lagi dingin
karena semua orang bertensi tinggi
keanehan semakin nyata
ketika pohon-pohon daunnya
tak hanya berwarna hijau
merah
kuning
biru
hingga ungu
semua menutup batang pohon
warna warni itupun tak hanya satu
karena beragam corak menghiasinya
di sebuah warung
gelas-gelas kopi hitam
berdenting, berbincang dengan asap rokok
tentang warna-warni daun yang tak lagi sedap dipandang
perbincangan tak hanya di warung kopi
bahkan di kebun
di bawah pohon pisang
serangga malam pun berdebat
tentang siapa yang akan mewakilinya
hingga siapa calon presidennya
Jepara, 24 Maret ‘09
udara tak lagi dingin
karena semua orang bertensi tinggi
keanehan semakin nyata
ketika pohon-pohon daunnya
tak hanya berwarna hijau
merah
kuning
biru
hingga ungu
semua menutup batang pohon
warna warni itupun tak hanya satu
karena beragam corak menghiasinya
di sebuah warung
gelas-gelas kopi hitam
berdenting, berbincang dengan asap rokok
tentang warna-warni daun yang tak lagi sedap dipandang
perbincangan tak hanya di warung kopi
bahkan di kebun
di bawah pohon pisang
serangga malam pun berdebat
tentang siapa yang akan mewakilinya
hingga siapa calon presidennya
Jepara, 24 Maret ‘09
Monday, March 16, 2009
Aku Saja Tak Mengerti, Apalagi Kau…
aku benar-benar tak mengerti dengan semua ini
apa lagi kau…
usiamu baru dalam hitungan hari
saat selang infus harus bermuara di pembuluh nadi
kau tak tau, betapa besar karunia Tuhan
menciptakan alam ini
untuk manusia,
untuk mu
tapi, kenapa, untuk bernafas saja
tak kau hirup udara bebas
kenapa harus kau hirup udara
yang harus kau bayar
aku saja tak mengerti
apalagi kau…
begitu besar perjuanganmu di awal hidupmu
tuk kau bisa rasakan
dinginnya embun yang turun
saat fajar tiba
hangatnya sinar mentari
di waktu dhuha
dan indahnya cakrawala
di kala senja
tapi inilah jalan hidupmu
yang aku saja tak mengerti
apalagi kau…
yang aku tahu,
kelak kau akan menjadi pejuang yang tangguh
yang akan berjuang
untuk hidupmu
untuk Tuhanmu
Jepara, 15 Maret ‘09
apa lagi kau…
usiamu baru dalam hitungan hari
saat selang infus harus bermuara di pembuluh nadi
kau tak tau, betapa besar karunia Tuhan
menciptakan alam ini
untuk manusia,
untuk mu
tapi, kenapa, untuk bernafas saja
tak kau hirup udara bebas
kenapa harus kau hirup udara
yang harus kau bayar
aku saja tak mengerti
apalagi kau…
begitu besar perjuanganmu di awal hidupmu
tuk kau bisa rasakan
dinginnya embun yang turun
saat fajar tiba
hangatnya sinar mentari
di waktu dhuha
dan indahnya cakrawala
di kala senja
tapi inilah jalan hidupmu
yang aku saja tak mengerti
apalagi kau…
yang aku tahu,
kelak kau akan menjadi pejuang yang tangguh
yang akan berjuang
untuk hidupmu
untuk Tuhanmu
Jepara, 15 Maret ‘09
Thursday, March 05, 2009
Mencarimu Di Dunia Entah
masih terjaga, dan aku ingin menyapamu
kembali, dalam syair entah
larut menyekapku dalam kesepian
coba berlari dan kucari
teman di dunia entah
tapi, tak jua ku temukan
mungkinkah ada malam disana?
aku tak tau, karena biasanya
setiap saat kau ada
bahkan, setiap kedip mata
kutemukan mu, walau hanya bayang semu
jepara, 4 maret 2009
dini hari, sebelum sandarkan penat
kembali, dalam syair entah
larut menyekapku dalam kesepian
coba berlari dan kucari
teman di dunia entah
tapi, tak jua ku temukan
mungkinkah ada malam disana?
aku tak tau, karena biasanya
setiap saat kau ada
bahkan, setiap kedip mata
kutemukan mu, walau hanya bayang semu
jepara, 4 maret 2009
dini hari, sebelum sandarkan penat
Wednesday, February 25, 2009
Bisikan Ibu
Aku mendengar panggilanmu
Pulanglah nak
Tak cukupkah segala warna yang kau kumpulkan di luar sana?
Aku ingin mendengar ceritamu
Tentang angin yang mengantarmu menggembara, meninggalkanku sekian lama
Aku mendengar senandung rindu
Dikisahkan pada peluk cium
Terakhir kali, ciuman di pipiku lama sekali
samar terdengar
Dinding-dinding rumah tetangga berbincang
Gelisah mengantar pada setiap peraduan
Aku mendengar gelisahmu
Menutup rapat setiap celah dinding yang bersuara dengan nyanyian warna yang kuceritakan padamu
Bening kelopak dua mata berbincang
kesekian kali
Pulanglah nak,
Hiasan kau selipkan di seluruh tubuhku
Mengikatku menjadi anak perempuanmu
Pintu tak terkunci
Aku pergi lagi
Dalam bisikan, aku mendengarmu
“Bagaimana bisa aku menahanmu, sedang kau adalah mimpiku,”
Puisi Puput Puji Lestari, sang pembelajar yang tangguh.
Pulanglah nak
Tak cukupkah segala warna yang kau kumpulkan di luar sana?
Aku ingin mendengar ceritamu
Tentang angin yang mengantarmu menggembara, meninggalkanku sekian lama
Aku mendengar senandung rindu
Dikisahkan pada peluk cium
Terakhir kali, ciuman di pipiku lama sekali
samar terdengar
Dinding-dinding rumah tetangga berbincang
Gelisah mengantar pada setiap peraduan
Aku mendengar gelisahmu
Menutup rapat setiap celah dinding yang bersuara dengan nyanyian warna yang kuceritakan padamu
Bening kelopak dua mata berbincang
kesekian kali
Pulanglah nak,
Hiasan kau selipkan di seluruh tubuhku
Mengikatku menjadi anak perempuanmu
Pintu tak terkunci
Aku pergi lagi
Dalam bisikan, aku mendengarmu
“Bagaimana bisa aku menahanmu, sedang kau adalah mimpiku,”
Puisi Puput Puji Lestari, sang pembelajar yang tangguh.
Monday, February 23, 2009
Mengeja Mimpi Tak Sempurna
kucoba mengeja mimpi malam ini
tapi tak kutemukan sebingkai kisah di dalamnya
dalam kesadaran yang belum genap terkumpul
seraut wajah kembali menyapa
dengan senyuman yang tak putus
dan kembali kucoba menyapanya
tuk coba temukan seulas senyuman
dalam sisa malamku ini
karena tanpa kusadari
aku tlah terjerat
sebait rindu yang membelenggu
jepara, 23 februari '09
tapi tak kutemukan sebingkai kisah di dalamnya
dalam kesadaran yang belum genap terkumpul
seraut wajah kembali menyapa
dengan senyuman yang tak putus
dan kembali kucoba menyapanya
tuk coba temukan seulas senyuman
dalam sisa malamku ini
karena tanpa kusadari
aku tlah terjerat
sebait rindu yang membelenggu
jepara, 23 februari '09
Subscribe to:
Posts (Atom)