Tuesday, June 23, 2009

Aku Masih Di Sini Ksatriaku

Will
aku masih di sini sendiri
nun jauh di sana meraung mengekang
hanya bayangmu Will di dadaku

tiga buah manisan
dan sebuah senyum simpul
hanya itu kado terbungkus darimu
untukku Will
saat malam tak lagi merenung
ketika pagi tak lagi mencari-cari
aku masih di sini
di sini untukmu Will

maafkan aku, wahai ksatriaku di sebrang sana
aku tak lagi sanggup mengejarmu


Saturday, June 06, 2009

Mimpi Rembulan

ada bulan separuh mengintipku
dari sudut jendela
dibayangi ranting kecil daun mangga

saat mulai kusandarkan
penat tubuh ini

kutatap rembulan
dengan sinarnya lembut

dan tanpa permisi
bayangan srigala melahap rembulan
memudarkan mimpi-mimpi

Jepara, 1 Juni 2009

Wednesday, June 03, 2009

Menghitung Nafas

entah berapa pasang mata yang menunggumu
dengan desah nafas yang tak menentu
karena cemas

sedangkan kau
hanya terbujur di pembaringan
tak lagi mampu
menghitung nafas sendiri
yang tinggal satu-satu

menunggu malaikat
yang menjemput
untuk perjalanan berikutnya

Jepara, Mei 2009


Thursday, April 16, 2009

Ditelikung Cinta

kau tak mengerti
atau pura-pura tak mengerti
kau tak tau
atau memang tak mau tau

aku sakit
tak hanya sakit hati
karena kehilangan orang tersayang

tapi lebih sakit
karena aku dikhianati
aku ditelikung dari belakang
dan berdalih
atas nama cinta

Jepara, 15 April ‘09


Thursday, April 09, 2009

Mimpi

mestinya kau melangkah keluar rumah
mengejar matahari yang selama ini
hanya bayangnya yang kau temukan di tanah

inilah saatnya
ketika daun-daun mulai kering
karena gerimis tak lagi membasuhnya

mestinya kau mulai kembali merangkai mimpi
tentang kenangan dan pengharapan
meski terkadang redup,
tapi mentari kan selalu menemani

datanglah
selagi hujan belum benar-benar pergi
dan kau masih bisa kumpulkan tetesan embun
sebagai bekal perjalananmu

datanglah
dengan segenggam cintamu
dan semailah seiring angin senja
yang mengantarkan pada ladang hati perempuanmu

datanglah
datanglah sebelum kau kehilangan waktu
dan gerimis benar-benar telah habis

Jepara, 9 April ‘09
2.16


Thursday, March 26, 2009

Malam Bertensi Tinggi

malam semakin terasa aneh

udara tak lagi dingin

karena semua orang bertensi tinggi



keanehan semakin nyata

ketika pohon-pohon daunnya

tak hanya berwarna hijau

merah

kuning

biru

hingga ungu

semua menutup batang pohon

warna warni itupun tak hanya satu

karena beragam corak menghiasinya



di sebuah warung

gelas-gelas kopi hitam

berdenting, berbincang dengan asap rokok

tentang warna-warni daun yang tak lagi sedap dipandang



perbincangan tak hanya di warung kopi

bahkan di kebun

di bawah pohon pisang

serangga malam pun berdebat

tentang siapa yang akan mewakilinya

hingga siapa calon presidennya



Jepara, 24 Maret ‘09



Monday, March 16, 2009

Aku Saja Tak Mengerti, Apalagi Kau…

aku benar-benar tak mengerti dengan semua ini
apa lagi kau…
usiamu baru dalam hitungan hari
saat selang infus harus bermuara di pembuluh nadi

kau tak tau, betapa besar karunia Tuhan
menciptakan alam ini
untuk manusia,
untuk mu
tapi, kenapa, untuk bernafas saja
tak kau hirup udara bebas
kenapa harus kau hirup udara
yang harus kau bayar

aku saja tak mengerti
apalagi kau…

begitu besar perjuanganmu di awal hidupmu
tuk kau bisa rasakan
dinginnya embun yang turun
saat fajar tiba
hangatnya sinar mentari
di waktu dhuha
dan indahnya cakrawala
di kala senja

tapi inilah jalan hidupmu
yang aku saja tak mengerti
apalagi kau…

yang aku tahu,
kelak kau akan menjadi pejuang yang tangguh
yang akan berjuang
untuk hidupmu
untuk Tuhanmu

Jepara, 15 Maret ‘09