Showing posts with label catatan. Show all posts
Showing posts with label catatan. Show all posts

Tuesday, August 07, 2018

Pantai

aku suka pantai
yang mengajariku tetap tenang menghadapi pasang surut
tentang kedamaian
tentang ketenangan
tentang kesetiaan air laut yang selalu kembali pada bibir pantai,
sejauh apapun dia pergi tergulung ombak
tentang kepercayaan
tentang kehidupan, bisa ku dapat disini
tentang persahabatan angin dan daun kelapa, atau daun cemara
tentang kesunyian dan riuh debur ombak
tentang kita


*diambil dari status teman  
Atikha Puspita Sari

Tuesday, September 16, 2014

Kabar Kematian


kabar kematian begitu dekat denganku
lusa, subuh baru berlalu
saat terdengar corong masjid kampung tetangga alunkan kabar kematian

pagi menjelang dengan hangat mentari

Thursday, March 04, 2010

Waktu Yang Kan Mengajariku

Adalah proses alami ketika rasa ketertarikan berubah jadi kagum. Seiring putaran waktu, tumbuh menjadi cinta yang mendalam. Tapi tidak selamanya serangkaian proses itu berakhir indah. Komitmen adalah kuncinya. Komitmen butuh dua hati untuk berbagi.

Jatuh cinta berjuta rasanya, tapi lebih seru ceritanya jika orang yang kita cintai, mencintai kita juga. Singkat kata break event point-lah. Jika salah satu pihak ternyata diam seribu bahasa, itu singgle fighter namanya. Karena to love is to be loved.

“Sungguh menyakitkan mencintai seseorang tapi tidak dicintai olehnya, tapi akan lebih menyakitkan lagi jika kita tidak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan cinta yang kita rasakan.”

Actually, that’s very simple words. Amazingly, sangat menyentuh nurani, bahkan memberi pencerahan dan kekuatan tersendiri.

It waste times and spaces. Yang ingin aku bagi adalah bagaimana cinta yang aku rasakan mengilhamiku untuk menjadi yang terbaik. Aku selalu ingin sehebat dia, menjadi yang terbaik di segala hal. Jika dia bisa, kenapa aku tidak? Aku percaya, if it is to be. It is up to me.

Ini adalah wujud optimisme yang aku wujudkan untuk menumbuhkan ekspektasi positif dalam hidupku. Bisa dibilang kata-katanya penuh makna. Setidaknya, begitulah yang aku rasakan. Argumentasinya seolah tidak terbantahkan bagi seorang “aku” yang terkadang amat egois dan sukar menerima pendapat orang lain jika pendapat itu tanpa realitas dan fakta.

Kalau ada orang bilang aku menjadi seperti sekarang, ini karena dia, aku tidak akan menyangkal. Aku rela mengakui, she is my inspiration.

Meskipun demikian aku tidak akan menutup mata dan hati untuk yang lain yang munngkin memenuhi kualifikasi untuk menjadi inspirator yang ketiga, keempat, kelima… Bisa jadi salah satu dari mereka adalah soul mate-ku. Who knows? Jangan pernah merasa bersalah dan berhenti mencintai hanya karena hati kita terlambat pada orang yang “belum tepat”.

Sejujurnya, aku tidak cukup punya kekuatan untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan ini sampai aku membaca berulang-ulang “Sungguh menyakitkan mencintai seseorang tapi tidak dicintai olehnya, tapi akan lebih menyakitkan lagi jika kita tidak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan cinta yang kita rasakan.” Dengan satu harapan, semoga dia turut membaca. Tidak ada tendensi apa pun dalam kalimat-kalimat yang kurangkai ini, apalagi membuatnya berubah “rasa”. No… not at all. Aku mungkin bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa baginya. Tapi satu yang pasti, dia pernah berarti buat hidupku.

Waktu telah mengajariku untuk lebih bersikap dewasa, dan mencari tahu apa yang aku inginkan, yaitu menjadi seorang yang berani mengungkapkan rasa dan pikiran.

***
Catatan ini aku dapatkan di rubrik halaman tujuh belas suara merdeka edisi hari minggu, untuk tanggalnya aku lupa. Entah beberapa tahun yang lalu. Tapi dengan cacatan ini aku sangat menghargai sebuah perjuangan untuk mendapatkan sesuatu. Bahwa sesuatu yang kita inginkan, utamanya yang akan dinikmati bersama (berdua), dalam hal ini cinta, tidak mungkin jika hanya diperjuangkan sendiri atau satu pihak saja. Jadi, harus ada kerja sama untuk mendapatkannya.


Monday, February 08, 2010

Responsible

Awalnya tidak ada niat serius untuk mendapatkan sesuatu, kecuali ingin menyapa teman dan mengintrospeksi diri. Ya, introspeksi diri. Beberapa hari yang lalu aku mengirim sms kepada tiga teman dengan isi pesan sama. Sebuah penggalan puisi yang sebelumnya sudah aku posting di catatan ini.

”Lagi, lagi dan lagi/ aku mengulang kesalahan yang sama/ dosa yang tlah lama kusadari/ lagi dan lagi...” tulisku dalam sms itu. Pesan ini aku kirim ke tiga nomor berbeda, semuanya teman baik buatku.

Tak berselang lama aku dapat jawaban. Jawaban pertama aku terima, disana tertulis; Have soomebody told u that u r stupid? “Tak ada yang salah dengan kesalahan kecuali kita tidak berusaha memperbaikinya” Sebuah pesan yang penuh arti. Menjadi nasehat buat siapa saja. Bahkan balasan itu diawali dengan sebuah tamparan keras, ”Have soomebody told u that u r stupid?” Memang selama ini belum ada seorangpun yang mengatkaan itu (bodoh) kepadaku. Karena tidak banyak, jika tidak mau mengatakan tidak ada yang tau apa yang sebenarnya terjadi pada diriku.

Pesan ini sebenarnya sudah cukup menjadi tamparan keras bagiku untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. Karena benar apa yang dikatakannya, “Tak ada yang salah dengan kesalahan kecuali kita tidak berusaha memperbaikinya” Kenapa aku belum bisa memperbaiki sebuah kesalahan yang sudah lama aku sadari dan ketahui. Mungkin memang perlu ada seseorang yang mengakakan bahwa aku ini sangatlah bodoh. Agar aku bisa untuk meninggalkan kesalahan-kesalahan yang ada. Tentunya juga untuk selalu mengingatkan aku.

Tak berselang lama, balasan sms kedua aku terima. ”Kenapa to, ada apa gerangan masku ini. Cerita ge!” tulisnya dalam pesan itu. Sebuah pesan yang mencerminkan perhatian seorang adik kepada kakaknya.

Yach, itu adalah pertanyaan yang mencerminkan sebuah perhatian lebihnya. Karena sebelumnya aku sudah pernah mengirimkan sms penggalan puisi itu dalam format yang belum sempurna (format puisi setengah matang). Mungkin karena hal itu, sehingga menjadikannya merasa perlu untuk menanyakan, apa gerangan yang membuatku menuliskan kembali penggalan puisi itu kepadanya.

Balasan sms terakhir aku terima. Dia tuliskan begini; ”Apa kau pikir dia tidak berbuat kesalahan.. aku rasa dia berbuat.. yaitu .. dia minta kamu memahami dia.. tapi dia tidak berusaha untuk memahami kamu.. itu kesalahan dia” Wouw, aku sangat terkejut dengan jawaban sms ini. Karena aku tak habis pikir, kenapa harus sampai menyalahkan orang lain. Padahal sebelumnya puisi itu hanya untuk introspeksi, kenapa harus sampai pada orang lain, bahkan menyalahkan orang lain. Benar-benar diluar dugaan.

Dari ketiga balasan itu, aku hanya sampaikan terima kasih, meski tak sempat aku membalas pesan masing-masing. Secara keseluruhan aku bersyukur banget, karena ada banyak orang yang perhatian dengan aku. Selain di facebook yang memberikan komentar dalam puisiku, juga banyak orang yang sangat responsive dengan apa yang aku rasakan.

Dengan tulisan ini, bukan berarti tidak ada teman atau saudara disekitar yang memberikan perhatian. Karena aku yakin kunci dari semuanya adalah komunikasi yang efektif. Karena semua perhatian dan kepedulian yang aku dapatkan tersebut juga dengan sebuah komunikasi yang aku bangun sejak lama. Sehingga mungkin perlu bagi kita untuk menjalin komunikasi yang efektif dengan siapa saja, agar kita memiliki banyak saudara yang akan mendukung dan memberikan suport kepada kita. Baik disaat sedih maupun senang. Agar ada orang yang menguatkan disaat kita terpuruk untuk segera bangkit kembali. Semoga.


Saturday, January 30, 2010

Perempuanku

Tak pernah sebelumnya aku menyebut seseorang itu dengan sebutan “perempuanku”. Tapi entah kenapa, sejak minggu kemarin aku menyebutnya dengan “perempuanku”. Dan itu, menjadikan seseorang merasa cemburu. Entahlah, meski dia tidak mengatakannya, tapi dari pembicaraannya, aku meyakini bahwa dia merasa cemburu. Dia hanya mengirimkan SMS, ”Ntah kenapa, ketika dirimu mengatakan perempuanku, hatiku langsung merasa piye.. sempat berfikir adakah laki-laki yang pernah menyebutku sebagai perempuaannya? Jadi iri.. hehe...”

Perempuanku, aku sendiri tak tau sejak kapan aku suka menggunakan istilah itu. Perempuanku, kata itu membuatku merasa sangat menghargai seorang wanita. Sebutan yang lebih indah didengar ketimbang cewek, ataupun wanita. Perempuan, sebuah kata yang sangat indah bagiku. Memang sangat subyektif, tapi itu yang aku rasakan.

Tak pernah sebelumnya aku menyebut ”perempuanku” untuk salah satu teman ataupun sahabatku perempuan. Tapi beberapa hari yang lalu, aku tergerak untuk menyebut seseorang dengan sebutan ”perempuanku”. Terus terang, ini bukan hal yang biasa. Karena memang tidak pernah aku lakukan sebelumnya.

Perempuanku, sebuah sebutan yang sangat indah didengar. Sebuah keberanian untuk mengambil keputusan dalam memberikan sebutan bagi seseorang dengan sebutan perempuanku. Yach, keputusan yang berani, karena aku merasa dia pantas untuk mendapatkan sebutan itu. Dia bukan perempuan biasa. Dia adalah seorang perempuan dengan kelebihan-kelebihan yang unik. Memang bukan spesial, tapi dia terasa istimewa.

Aku tak tau, apa yang akan terjadi esok. Hanya sebuah harapan dan doa, agar dia benar-benar akan menjadi ”perempuanku”. Perempuan yang akan menemani perjalanan hidupku selanjutnya. Menjadi bagian dari kehidupan pribadiku, juga akan menjadi penjaga dan pendidik bagi keturunanku. Kelak, suatu saat nanti. Dan hal itu adalah saat yang tepat yang ditentukan oleh-Nya. Semoga. Dan kini, aku hanya bisa memperbaiki diri, untuk memantaskan diri, agar layak untuk mendapatkannya. Agar layak mendapatkan perempuan yang terindah. Ya, ”perempuanku”.