Wednesday, February 25, 2009

Bisikan Ibu

Aku mendengar panggilanmu
Pulanglah nak
Tak cukupkah segala warna yang kau kumpulkan di luar sana?
Aku ingin mendengar ceritamu
Tentang angin yang mengantarmu menggembara, meninggalkanku sekian lama

Aku mendengar senandung rindu
Dikisahkan pada peluk cium
Terakhir kali, ciuman di pipiku lama sekali


samar terdengar

Dinding-dinding rumah tetangga berbincang
Gelisah mengantar pada setiap peraduan
Aku mendengar gelisahmu
Menutup rapat setiap celah dinding yang bersuara dengan nyanyian warna yang kuceritakan padamu

Bening kelopak dua mata berbincang
kesekian kali
Pulanglah nak,

Hiasan kau selipkan di seluruh tubuhku
Mengikatku menjadi anak perempuanmu
Pintu tak terkunci
Aku pergi lagi

Dalam bisikan, aku mendengarmu
“Bagaimana bisa aku menahanmu, sedang kau adalah mimpiku,”


Puisi Puput Puji Lestari, sang pembelajar yang tangguh.


Monday, February 23, 2009

Mengeja Mimpi Tak Sempurna

kucoba mengeja mimpi malam ini
tapi tak kutemukan sebingkai kisah di dalamnya
dalam kesadaran yang belum genap terkumpul
seraut wajah kembali menyapa
dengan senyuman yang tak putus
dan kembali kucoba menyapanya
tuk coba temukan seulas senyuman
dalam sisa malamku ini
karena tanpa kusadari
aku tlah terjerat
sebait rindu yang membelenggu

jepara, 23 februari '09

Monday, February 16, 2009

[catatan] 1000 Wajah Pram


Sedikit terlambat. Karena meleset dari perkiraan. Perjalanan Jepara ke Blora, tak cukup hanya ditempuh selama 4 jam. Kemacetan menjebak langkah antara Pati sampai Rembang. Hingga akhirnya selepas senja baru ku jejakkan kaki di kota Blora.
Tak tau harus kemana. Karena itu kali pertama aku menginjakkan kaki di kota itu. Apalagi alamat, dimana alamat sastrawan dunia yang kini diperingati hari meninggalnya yang ke seribu itu. Ya, peringatan seribu hari meninggalnya Pramoedya Ananta Toer, dalam 1000 Wajah Pram Dalam Kata dan Sketsa.
Lagi-lagi terlambat. Selepas isya, baru aku sampai di “rumah demit” (sebutan rumah Pram), dimana acara 1000 Wajah Pram digelar. Dan acara terakhir adalah pertunjukan karawitan dan wayang kulit. Karena baru sampai, aku harus segera melihat


melukis wajah pram yang hampir tak dikenal



pameran lukisan dan sketsa seribu wajah Pram. Banyak sekali imajinasi yang dilukiskan untuk menggambarkan wajah Pram. Anak-anak pun menggambar, mencoba mengenal wajah Pram. Mengenal wajah gurunya. Selain lukisan dan sketsa, banyak juga bait-bait yang menggambarkan Pram.
Puas menikmati lukisan dan sketsa wajah pram, juga mengenang peninggalan Pram dalam memorabilia. Sebuah ruangan yang menyimpan barang-barang yang dulu dipakai Pram dan keluarganya. Sebuah mesin ketik bermerk Optima, yang melahirkan karya-karya sastra kelas dunia dari tangan Sang Sastrawan. Dua buah kaca mata Pram, juga menjadi saksi bisu dalam ruangan itu.
Pertunjukkan wayang kulit masih berlangsung. Warga sekitar pun banyak memadati jalan kampung itu. Sedangkan kami berempat [saya dari Jepara, mas Malik yang dari Mojokerto, Andhika yang asli Blora, juga Puput yang asli Blora, tapi sudah lama meninggalkan kota kelahirannya itu] lebih asyik berbincang di sebelah panggung. Membicarakan pram. Membincang nasib karya Pram. Juga keprihatinan tentang orang Blora yang tak mengenal Pram. Namun begitu waktu menunjukkan jam 11 malam, pagelaran wayang kulit diakhiri. Kami yang dari luar daerah, heran dengan hal itu. Karena biasanya pertunjukan wayang akan berlangsung semalam.
Baru kami ketahui, bahwa memang tradisi disana seperti itu. Hal ini kami ketahui dari seorang kawan yang asli Blora [andhika]. Bahkan puput yang asli Blora juga heran dengan hal itu. Meski kegiatan sudah selesai, kami tetap melanjutkan perbincangan.
Banyak yang menjadi kegelisahan kami. Mengapa banyak orang yang tak mengenal Pram. Mengapa orang Blora tak mengenal Pram. Dan mengapa tak ada kepedulian pemerintah daerah Blora untuk mengenalkan Pram pada dunia. Hingga tercetus ide untuk merubah nama jalan dimana rumah Pram berada. Rumah pram dan Perpustakaan Pataba, jalan Sumbawa No 40 Jetis Blora 58211. Dan kita berempat berjanji untuk mengklaim alamat tersebut dengan alamat baru yaitu Perpustakaan Pataba jl. Pramoedya Ananta Toer No. 40 Jetis Blora 58211.
“Di jalan Pramoedya, (ex sumbawa) Blora. Menikmati janji setahun lagi!!!”
Berbincang kami, terus berlanjut sampai larut. Dan ketika orang-orang telah selesai merayakan acara 1000 wajah Pram, kami tetap berbincang. Kami pindah dari rumah Pram, ke putri malam, mencari sesuatu yang dapat menahan kami untuk tetap terjaga. Sampai pagi. Segelas kopi, segelas teh hangat, sesuai selera masing-masing. Dan dengan hal itu ternyata cukup membuat kami terjada sampai pagi. Hingga rombongan mas Malik pulang ke Jombang.
Acara 1000 Wajah Pram Dalam Kata dan Sketsa, tlah usai. Tapi apa yang tlah didapatkan oleh mereka. Baik penyelenggara, peserta ataupun siapapun yang merasa peduli dengan acara tersebut, juga peduli dengan Pram. Ya setidaknya kami berempat telah mencoba untuk lebih mengenal Pram, dan mengenalkannya kepada dunia. Di facebook, friendster, juga media lainnya, kami mencoba mengenalkan Pram kepada dunia. Mengenalkan alamat baru perpustakaan Pataba di Jl. Pramoedya Ananta Toer No. 40 Jetis Blora 58211. Ya, akhirnya kami berharap setahun lagi bisa bertemu di jalan Pramoedya Ananta Toer Blora.

Merubah Peta Hidup

aku ingin merubah peta hidupku
tapi ke arah mana harus ku tuju
entah berapa lama aku kehilangan penunjuk arahku
sekedar untuk mengingat kiblat
saat Dia memanggilku untuk kembali bersujud

aku merindukan lagi
saat-saat bercumbu dengan-Nya
dengan doa-doa yang tak terkonsep
hingga aku sendiri
kadang tak tau apa yang aku inginkan

aku ingin merubah peta hidupku
semoga jalan-jalan ke depan
sampai aku pulang akan membahagiakan

jepara, 16 Februari '09


Tuesday, January 27, 2009

Aku Ingin Melanjutkan Perjalanan Ini

Rasa lelah menghantui di saat usai perjalanan. Namun akankah lelah itu menghentikan langkah kita. Ya, berhenti bukan untuk selamanya. Karena perhentian ini hanyalah sementara. Seperti singgahnya sebuah bus di terminal-terminal yang dilaluinya.

Berhentilah sejenak, lalu ukur kembali kekuatan kita untuk melanjutkan perjalanan. Tentunya perjalanan yang telah tertempuh, dapat menjadi bahan perenungan. Berapa bayak bahan bakar yang diperlukan untuk satu perjalanan. Juga berapa banyak perkiraan bahan bakar yang akan diperlukan untuk perjalanan yang akan dilakukan. Sambil memeriksa ban, air radiator, bahkan mesin pun juga harus diganti oli, agar perjalanan selanjutnya akan lebih baik dari yang sebelumnya.
Ya, aku kini seperti sebuah bus yang sedang singgah di sebuah terminal. Mendinginkan mesin, sambil menanti penumpang yang akan ikut dalam perjalanan yang segera tertempuh. Selain menunggu teman yang akan menemani perjalanan berikutnya, bekal juga harus disiapkan untuk cadangan, kalau-kalau dibutuhkan.
Dari perjalanan yang telah terlewati, mungkin hampir separuh dari rute jarak yang telah ditetapkan. Dan selama itu pula, belum aku temukan teman perjalanan yang tepat, dan akan menemani perjalanan hingga akhir tujuan hidup ini.
Namun aku yakin, pasti akan ada satu yang menemani perjalanan ini. Entah kapan akan menyapa, dan di mana akan mulai menemaniku. Semoga setelah ini, segera aku menjumpainya, untuk menemani perjalananku. Karena aku sudah semakin lelah untuk berjalan sendiri. Aku butuh teman untuk berbagi selama di perjalanan. Aku butuh teman yang mengingatkan kalau-kalau aku salah dalam menentukan arah. Atau bahkan peta yang selama ini aku gunakan ternyata telah usang, dan harus segera diganti. Maka aku butuh teman yang bias membantu membaca peta, sekaligus menjadi navigator selama perjalanan ini.

Aku lelah berjalan sendiri,
tapi aku ingin melanjutkan perjalanan ini.
Aku ingin melanjutkan perjalanan
bersama orang yang tepat
dan di saat yang tepat.

Semoga perjalanan selanjutnya semakin indah dan penuh berkah.

Jepara, akhir januari ‘09



Wednesday, January 21, 2009

[Bertemu] Teman Lama

untuk teman lama yang sedang mewujudkan rangkaian mimpinya.

Beberapa waktu yang lalu, tanpa sengaja [meskipun bisa dibilang sengaja] aku iseng menghubung salah satu teman lamaku. Teman lama yang dulu sama-sama aktif di penerbitan mahasiswa, atau lebih dikenal dengan pers kampus. Ya…, di suatu sore, yang sebenarnya aku masih sibuk dengan pekerjaan yang harus aku selesaikan untuk deadline hari itu.

Waktu itu, karena komputer harus gantian, dan masih dipake’ temen, ya akhirnya aku iseng telfon-telfon temen. Biasa kalau lagi dapet gratisan emang sering [gangguin] telfon orang, teruama untuk yang sama-sama satu provider, he..he…

Aku kontak beberapa nomor, ee.. malah pada ga nyabung. Jadi tambah BeTe. Udah tugas belum selesai, komputer masih nunggu, ini mo cari temen ngobrol, malah ga connect-2. Meski sudah banyak kali telfon ga diangkat, atau di luar service area, atau nomor yang udah ga aktif-lah. Bikin tambah BeTe aja.

Tapi tanpa sengaja, terus aku searching di phonebook-ku, akhirnya aku ketemu dengan salah satu nomor dengan provider yang sama dengan yang aku gunakan. Satu nomor dengan nama puput_crds. Aku sempat berfikir sejenak, untuk meyakinkan akankah aku hubungi dia atau tidak. Karena sepengetahuanku, terakhir ketemu sekitar [mungkin] satu setengah tahun yang lalu [jadi keinget pertemuan yang sangat singkat tapi sangat berkesan (buat ku) itu], dia bekerja di salah satu koran nasional . Dan sebagai teman yang juga pernah aktif di pers kampus, aku tau pekerjaan dan deadline sebagai wartawan koran. Tapi entah keinginan dari mana yang meyakinkan ku untuk menghubunginya.

Begitu panggilan pertama masuk [aku semakin yakin dia bukan orang sembarangan. Seperti orang sekarang yang sering ganti-2 nomor]. Aku menunggu, satu kali panggilan, dua kali panggilan, belum juga diangkat. Dan panggilan ke tiga, terdengar suara menyapa dengan sangat santun dan formal. “Halo, selamat sore.” Ucapnya. [yang mungkin dilakukan kepada setiap telfon yang masuk]

“Ya, selamat sore. Benar ini dengan mbak Puput?” jawabku sambil iseng menanyakan namanya.

“Iya, maaf ini dengan siapa ya?” jawabnya balik bertanya.

Setelah terjadi beberapa percakapan, akhirnya aku mengingatkannya dengan dunia pers kampus dan ku katakan dimana aku dulu kuliah dan berproses kreatif di majalah kampus. Setalah dia ingat betul siapa aku, tawa-nya pun pecah seperti dulu waktu masih sering lembur di LPM [tak seperti kalimat pertama saat menjawab telfon]. Yach, keakraban kembali terjalin.

Dalam perbincangan jarak jauh itu, dia banyak tanya dengan keadaanku sekarang. Termasuk kerja di mana. Sebuah pertanyaan yang seolah wajib ditanyakan, bagi keanalan sekolah atau kuliah dan lama tidak ketemu. Dari cerita-2 yang tersampaikan, ternyata dia sudah tidak lagi kerja menjadi wartawan koran. Dan dia cerita tiga bulan ini, dia sudah pindah ke Jakarta. Intinya dia bekerja di salah satu media hiburan elektronik .

Percakapan pun terus mengalir seiring kabar yang lama tak terdengar. Saling menanyakan kabar. Menanyakan pekerjaan, hingga gaji. dan akhirnya ada sedikit rasa sayang dengan pekerjaan yang kujalani. Dengan salary yang kuterima. Memang jauh berbeda dengan ketika bekerja di tempat lain.

Sayang perbincangan menarik itu harus terputus, karena aku harus segera menyelesaikan berita yang segera tayang. Namun dari sesuatu yang singkat itu, ternyata dia masih mengenalku seperti aku yang dulu, katanya. Entah dari mana penilaian itu. Dia bilang “Kamu kok masih tetap seperti dulu?” Dari puisi-pusi yang ada di blog ini, katanya cinta yang aku tuliskan masih menggambarkan sebuah perasaan cinta[ku] pada sosok wanita. Dan dengan sedikit bercanda kujawab, “Ya mungkin karena belum ketemu, cinta yang mau menjadi pendamping hidup.” Jawaban yang asal dan dengan niat becanda memecahkan tawa kita berdua.

Dua hari berikutnya, aku kembali melihat blog-ku, ya… benar juga dia meninggalkan comment di blog-ku. Akhirnya-pun kulihat juga blog miliknya. Beralamat di duniapembelajar . Memang tulisan-tulisannya sedikit panjang. Tapi sejatinya bertemakan sesuatu yang sederhana. Ya… salah satunya adalah “Menata Puzzel Mimpi”. Sebuah tulisan yang mendorong ku untuk meninggalkan comment di sana (yang juga aku post di blog ini).

Pertemuan teman lama yang [tanpa] sengaja, semoga akan menjadi ikatan persahabatan ini kian kuat. Untuk berbagi “informasi” hidup masing-masing, juga sambil membagi mimpi, untuk saling mengingatkan dalam mewujudkan mimpi masing-masing.


Jakarta, akankah aku menyusulmu ke sana…
Semoga ada mimpi yang lebih indah di sana…

jepara, 18 januari '09

Hujan Yang Manis

cuma beberapa tetes saja
langit menangis,

dan …

belum menjadi gerimis

dan …

apalagi hujan yang manis,

padahal mata air cinta dan imanku
sudah hampir mengering

dan habis

terkikis


=========
* Sebuah pesan dari teman, 6 bulan yang lalu tepat saat perjalanan ditemani hujan yang mengguyur deras. Terima kasih kawan, semoga inspirasi terus mengalir seperti mata air cinta-mu kepada-Nya.