aku terjaga sesaat sebelum fajar tiba
disaat ingatanku tertuju hanya padamu
aku mengingatmu
sejak iftitah terucap kali pertama
hingga sujud dan tasyahudku
dalam baluran embun yang selimuti jiwa
tuk segera temukan keyakinan
bahwa engkau itu ada
Jepara, 25 Maret 2010
Suatu saat ketika salju mencair, maka beribu mata air akan mengaliri tanah tandus dan padang gersang. Dan saat mata air itu muncul, maka kehidupan akan senantiasa ada. Begitulah, dan ketika tulisan-tulisan yang ada di sini bermanfaat bagi pembaca adanya, itulah kehidupan dari tulisan ini. Karena kehidupan sebuah ide dan pemikiran adalah ketika tulisan itu dapat memberi inspirasi, motivasi kepada pembacanya... dan ini akan memberi hidup bagi kita...
Monday, March 29, 2010
Wednesday, March 24, 2010
Bahasa Rindu
tak cukupkah kosa kata yang ada dalam kamus bahasa
kalau hanya untuk menerjemahkan perasaanmu
beribu-ribu kata yang ada di dalamnya
hanya kau bolak-balik untuk mencari kata yang satu
kenapa tak kau utarakan rasamu
untuk dapat aku mengerti
entah kenapa rasa yang kau rasakan
selalu terbentur ragumu
yang terasa kian membelenggu
dan kini, saat malam temaram
dalam baluran cahaya bulan
aku pun ingin menyapamu
dengan bahasa rasamu
yang masih kau ragu
namun, tidak bagiku
karena aku tlah mengerti
bahasa rasa yang masih kau ragu
sebuah perasaan yang aku terjemahkan
dalam bahasa rindu
Jepara, 23 Maret 2010
kalau hanya untuk menerjemahkan perasaanmu
beribu-ribu kata yang ada di dalamnya
hanya kau bolak-balik untuk mencari kata yang satu
kenapa tak kau utarakan rasamu
untuk dapat aku mengerti
entah kenapa rasa yang kau rasakan
selalu terbentur ragumu
yang terasa kian membelenggu
dan kini, saat malam temaram
dalam baluran cahaya bulan
aku pun ingin menyapamu
dengan bahasa rasamu
yang masih kau ragu
namun, tidak bagiku
karena aku tlah mengerti
bahasa rasa yang masih kau ragu
sebuah perasaan yang aku terjemahkan
dalam bahasa rindu
Jepara, 23 Maret 2010
Saturday, March 20, 2010
Gelisah Sekembu
kembali,
aku duduk termenung
termangu dengan segala cerita senja
tiga purnama telah terlalui
tanpa percumbuan yang biasanya mesra
kini, aku duduk di tempat yang sama
seperti dulu waktu aku menyaksikan purnama
yang menjadi saksi dasawarsa
tapi kini, di saat purnama menjelang dengan segenap cinta
aku tak sanggup lagi mendekatimu
bahkan ketika pecahan-pecahan kaca
telah tertata di sekujurmu
haruskah aku mencumbumu
dengan menggoreskan luka pada tubuhku
kembali aku termenung
termangu dalam batas cakrawala
yang terhampar dari riak gelombang
yang tertahan oleh bongkahan tanah tanpa nama
aku terpaku
masihkah ada cerita indah masa lalu
yang akan didengar oleh anak cucu
Jepara, 5 Maret 2010
aku duduk termenung
termangu dengan segala cerita senja
tiga purnama telah terlalui
tanpa percumbuan yang biasanya mesra
kini, aku duduk di tempat yang sama
seperti dulu waktu aku menyaksikan purnama
yang menjadi saksi dasawarsa
tapi kini, di saat purnama menjelang dengan segenap cinta
aku tak sanggup lagi mendekatimu
bahkan ketika pecahan-pecahan kaca
telah tertata di sekujurmu
haruskah aku mencumbumu
dengan menggoreskan luka pada tubuhku
kembali aku termenung
termangu dalam batas cakrawala
yang terhampar dari riak gelombang
yang tertahan oleh bongkahan tanah tanpa nama
aku terpaku
masihkah ada cerita indah masa lalu
yang akan didengar oleh anak cucu
Jepara, 5 Maret 2010
Saturday, March 13, 2010
Biarkan Aku Menyapamu Dalam Diam
Biarkan aku menyapamu dengan bahasa diam
Karena di depanmu, diamku akan penuh makna
Sebuah panggilan melalui ponsel, pun segera aku batalkan
Dan selalu kau balas dengan pesan singkatmu
”Maaf, ada apa ya?
Sering dalam perjumpaan kita
Tegur sapa hanya sekedar pewarna
Karena bahasa hati kita
Yang akan menjelaskan makna yang ada
Maka, biarkan aku menyapamu dengan bahasa diam
Yang telah lama aku ungkapkan
Meski hanya diam
Tapi semua mampu menerangkan seluas pandangan
Jepara, 5 Maret 2010
Karena di depanmu, diamku akan penuh makna
Sebuah panggilan melalui ponsel, pun segera aku batalkan
Dan selalu kau balas dengan pesan singkatmu
”Maaf, ada apa ya?
Sering dalam perjumpaan kita
Tegur sapa hanya sekedar pewarna
Karena bahasa hati kita
Yang akan menjelaskan makna yang ada
Maka, biarkan aku menyapamu dengan bahasa diam
Yang telah lama aku ungkapkan
Meski hanya diam
Tapi semua mampu menerangkan seluas pandangan
Jepara, 5 Maret 2010
Thursday, March 04, 2010
Waktu Yang Kan Mengajariku
Adalah proses alami ketika rasa ketertarikan berubah jadi kagum. Seiring putaran waktu, tumbuh menjadi cinta yang mendalam. Tapi tidak selamanya serangkaian proses itu berakhir indah. Komitmen adalah kuncinya. Komitmen butuh dua hati untuk berbagi.
Jatuh cinta berjuta rasanya, tapi lebih seru ceritanya jika orang yang kita cintai, mencintai kita juga. Singkat kata break event point-lah. Jika salah satu pihak ternyata diam seribu bahasa, itu singgle fighter namanya. Karena to love is to be loved.
“Sungguh menyakitkan mencintai seseorang tapi tidak dicintai olehnya, tapi akan lebih menyakitkan lagi jika kita tidak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan cinta yang kita rasakan.”
Actually, that’s very simple words. Amazingly, sangat menyentuh nurani, bahkan memberi pencerahan dan kekuatan tersendiri.
It waste times and spaces. Yang ingin aku bagi adalah bagaimana cinta yang aku rasakan mengilhamiku untuk menjadi yang terbaik. Aku selalu ingin sehebat dia, menjadi yang terbaik di segala hal. Jika dia bisa, kenapa aku tidak? Aku percaya, if it is to be. It is up to me.
Ini adalah wujud optimisme yang aku wujudkan untuk menumbuhkan ekspektasi positif dalam hidupku. Bisa dibilang kata-katanya penuh makna. Setidaknya, begitulah yang aku rasakan. Argumentasinya seolah tidak terbantahkan bagi seorang “aku” yang terkadang amat egois dan sukar menerima pendapat orang lain jika pendapat itu tanpa realitas dan fakta.
Kalau ada orang bilang aku menjadi seperti sekarang, ini karena dia, aku tidak akan menyangkal. Aku rela mengakui, she is my inspiration.
Meskipun demikian aku tidak akan menutup mata dan hati untuk yang lain yang munngkin memenuhi kualifikasi untuk menjadi inspirator yang ketiga, keempat, kelima… Bisa jadi salah satu dari mereka adalah soul mate-ku. Who knows? Jangan pernah merasa bersalah dan berhenti mencintai hanya karena hati kita terlambat pada orang yang “belum tepat”.
Sejujurnya, aku tidak cukup punya kekuatan untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan ini sampai aku membaca berulang-ulang “Sungguh menyakitkan mencintai seseorang tapi tidak dicintai olehnya, tapi akan lebih menyakitkan lagi jika kita tidak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan cinta yang kita rasakan.” Dengan satu harapan, semoga dia turut membaca. Tidak ada tendensi apa pun dalam kalimat-kalimat yang kurangkai ini, apalagi membuatnya berubah “rasa”. No… not at all. Aku mungkin bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa baginya. Tapi satu yang pasti, dia pernah berarti buat hidupku.
Waktu telah mengajariku untuk lebih bersikap dewasa, dan mencari tahu apa yang aku inginkan, yaitu menjadi seorang yang berani mengungkapkan rasa dan pikiran.
***
Catatan ini aku dapatkan di rubrik halaman tujuh belas suara merdeka edisi hari minggu, untuk tanggalnya aku lupa. Entah beberapa tahun yang lalu. Tapi dengan cacatan ini aku sangat menghargai sebuah perjuangan untuk mendapatkan sesuatu. Bahwa sesuatu yang kita inginkan, utamanya yang akan dinikmati bersama (berdua), dalam hal ini cinta, tidak mungkin jika hanya diperjuangkan sendiri atau satu pihak saja. Jadi, harus ada kerja sama untuk mendapatkannya.
Jatuh cinta berjuta rasanya, tapi lebih seru ceritanya jika orang yang kita cintai, mencintai kita juga. Singkat kata break event point-lah. Jika salah satu pihak ternyata diam seribu bahasa, itu singgle fighter namanya. Karena to love is to be loved.
“Sungguh menyakitkan mencintai seseorang tapi tidak dicintai olehnya, tapi akan lebih menyakitkan lagi jika kita tidak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan cinta yang kita rasakan.”
Actually, that’s very simple words. Amazingly, sangat menyentuh nurani, bahkan memberi pencerahan dan kekuatan tersendiri.
It waste times and spaces. Yang ingin aku bagi adalah bagaimana cinta yang aku rasakan mengilhamiku untuk menjadi yang terbaik. Aku selalu ingin sehebat dia, menjadi yang terbaik di segala hal. Jika dia bisa, kenapa aku tidak? Aku percaya, if it is to be. It is up to me.
Ini adalah wujud optimisme yang aku wujudkan untuk menumbuhkan ekspektasi positif dalam hidupku. Bisa dibilang kata-katanya penuh makna. Setidaknya, begitulah yang aku rasakan. Argumentasinya seolah tidak terbantahkan bagi seorang “aku” yang terkadang amat egois dan sukar menerima pendapat orang lain jika pendapat itu tanpa realitas dan fakta.
Kalau ada orang bilang aku menjadi seperti sekarang, ini karena dia, aku tidak akan menyangkal. Aku rela mengakui, she is my inspiration.
Meskipun demikian aku tidak akan menutup mata dan hati untuk yang lain yang munngkin memenuhi kualifikasi untuk menjadi inspirator yang ketiga, keempat, kelima… Bisa jadi salah satu dari mereka adalah soul mate-ku. Who knows? Jangan pernah merasa bersalah dan berhenti mencintai hanya karena hati kita terlambat pada orang yang “belum tepat”.
Sejujurnya, aku tidak cukup punya kekuatan untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan ini sampai aku membaca berulang-ulang “Sungguh menyakitkan mencintai seseorang tapi tidak dicintai olehnya, tapi akan lebih menyakitkan lagi jika kita tidak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan cinta yang kita rasakan.” Dengan satu harapan, semoga dia turut membaca. Tidak ada tendensi apa pun dalam kalimat-kalimat yang kurangkai ini, apalagi membuatnya berubah “rasa”. No… not at all. Aku mungkin bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa baginya. Tapi satu yang pasti, dia pernah berarti buat hidupku.
Waktu telah mengajariku untuk lebih bersikap dewasa, dan mencari tahu apa yang aku inginkan, yaitu menjadi seorang yang berani mengungkapkan rasa dan pikiran.
***
Catatan ini aku dapatkan di rubrik halaman tujuh belas suara merdeka edisi hari minggu, untuk tanggalnya aku lupa. Entah beberapa tahun yang lalu. Tapi dengan cacatan ini aku sangat menghargai sebuah perjuangan untuk mendapatkan sesuatu. Bahwa sesuatu yang kita inginkan, utamanya yang akan dinikmati bersama (berdua), dalam hal ini cinta, tidak mungkin jika hanya diperjuangkan sendiri atau satu pihak saja. Jadi, harus ada kerja sama untuk mendapatkannya.
Friday, February 26, 2010
KarenaMu…
Sebelumnya tak pernah mengira akan dapat kiriman sebuah puisi darinya. Tapi pada hari senin 8 februari lalu, aku mendapat sebuah puisi telah nangkring di inbox-ku. Kulihat di subjectnya tertulis KarenaMu. "KarenaMu" sebuah judul yang menandakan bahwa tak ingin karena yang lain. dan hanya KarenaMu.
Saat kubuka email di body email tertulis:
"Asalamu'alaikum
Afwan jika puisinya gak sesuai dengan kaidah bikin puisi yg benar.... maklum sebagai "pemula".........tapi ini bikinan aku sendiri kok....
Asalamu'alaikum"
Subhanallah... tak tau harus bicara apa, tapi ini adalah sebuah usaha untuk menculis puisi. Dan inilah puisi yang telah ditulisnya itu..
KarenaMu…
Aku tak mengerti apa yang aku alami.
Rasa rindu ini datang tanpa aku undang
dia datang tiba – tiba tanpa permisi..
Ampuni aku ya Rabb….
Jika perasaan ini bukan karenaMu…
Aku ingin mencintainya karenaMu…
Merindukannya juga karenaMu..
Jika aku ingin memilikinya juga karenaMu
Jika dia ada dihatiku juga karenaMu
Jika dia bersamaku juga karenaMu…
Jepara, Januari 2010
Subhanallah.., aku benar-benar tak bisa bicara apa-apa. Hanya bisa berharap bahwa puisi ini adalah sebuah pengungkapan dari relung hatinya yang terdalam. Amien.
Saat kubuka email di body email tertulis:
"Asalamu'alaikum
Afwan jika puisinya gak sesuai dengan kaidah bikin puisi yg benar.... maklum sebagai "pemula".........tapi ini bikinan aku sendiri kok....
Asalamu'alaikum"
Subhanallah... tak tau harus bicara apa, tapi ini adalah sebuah usaha untuk menculis puisi. Dan inilah puisi yang telah ditulisnya itu..
KarenaMu…
Aku tak mengerti apa yang aku alami.
Rasa rindu ini datang tanpa aku undang
dia datang tiba – tiba tanpa permisi..
Ampuni aku ya Rabb….
Jika perasaan ini bukan karenaMu…
Aku ingin mencintainya karenaMu…
Merindukannya juga karenaMu..
Jika aku ingin memilikinya juga karenaMu
Jika dia ada dihatiku juga karenaMu
Jika dia bersamaku juga karenaMu…
Jepara, Januari 2010
Subhanallah.., aku benar-benar tak bisa bicara apa-apa. Hanya bisa berharap bahwa puisi ini adalah sebuah pengungkapan dari relung hatinya yang terdalam. Amien.
Tuesday, February 23, 2010
Hujan, Petani dan Penguasa
aku adalah petani
aku adalah petani yang menggarap sepetak sawah peninggalan orang tuaku
petak sawahku, tak selalu menghasilkan
karena hanya mengandalkan air hujan untuk menanaminya.
bulan desember,
bulan yang seharusnya hujan telah membasahi bumi dan tanah,
dimana sawah kutanami padi dan beberapa jenis palawija
desember, gede-gede-ne sumber, kata orang tua dulu
tapi kini, dimanakah hujan
kemanakah perginya awan yang mengantarkan curahan hujan
dimanakah hujan
hujan yang sangat ku nantikan,
untuk menanam sebutir padi
guna menyambung hidup keluargaku
bulan berganti, januari,
sawahku tlah ku tanami dengan benih seadanya
januari, hujan mulai mengguyur tanpa henti
januari, hujan sehari-hari
dengan mencurahkan segala jenis air yang terkumpul dalam gumpalam awan
air laut, air sungai, air danau, air got, air comberan
bahkan keringat dan air mata para petani yang menebar benih-benih harapan
hujan, kau kah itu
yang tlah menenggelamkan padi yang baru aku tanam
seolah kau hempaskan segala mimpi dan harapan
inikah caramu untuk menjawab doaku bulan lalu
inikah caramu menjadi perantara turunnya rahmat tuhan bagi seluruh alam
tapi, kenapa harus kau tenggelamkan sawah dan tanaman padiku
hujan,
sebulan lalu aku merindukanmu
untuk menggarap sawahku
tapi kini, kau telah menenggelamkan sawah dan tanaman padiku
padi yang baru saja aku semaikan
kini aku benar-benar mengharapkan matahari
karena para pejabat, hanya pandai berceramah
kita akan bantu sawah yang kebanjiran
kita akan bantu dengan benih yang bermutu
mereka juga mengatakan, bahwa kita akan swasembada beras
kita akan swasembada pangan
aku tersenyum kecut mendengar ocehannya
coba saja kau tanami sawah-sawah dan kau wujudkan swasembada pangan
coba saja,
kalau kami para petani tlah enggan tuk kembali menanam
coba saja kau wujudkan
batinku
Jepara, 1 Februari 2010
aku adalah petani yang menggarap sepetak sawah peninggalan orang tuaku
petak sawahku, tak selalu menghasilkan
karena hanya mengandalkan air hujan untuk menanaminya.
bulan desember,
bulan yang seharusnya hujan telah membasahi bumi dan tanah,
dimana sawah kutanami padi dan beberapa jenis palawija
desember, gede-gede-ne sumber, kata orang tua dulu
tapi kini, dimanakah hujan
kemanakah perginya awan yang mengantarkan curahan hujan
dimanakah hujan
hujan yang sangat ku nantikan,
untuk menanam sebutir padi
guna menyambung hidup keluargaku
bulan berganti, januari,
sawahku tlah ku tanami dengan benih seadanya
januari, hujan mulai mengguyur tanpa henti
januari, hujan sehari-hari
dengan mencurahkan segala jenis air yang terkumpul dalam gumpalam awan
air laut, air sungai, air danau, air got, air comberan
bahkan keringat dan air mata para petani yang menebar benih-benih harapan
hujan, kau kah itu
yang tlah menenggelamkan padi yang baru aku tanam
seolah kau hempaskan segala mimpi dan harapan
inikah caramu untuk menjawab doaku bulan lalu
inikah caramu menjadi perantara turunnya rahmat tuhan bagi seluruh alam
tapi, kenapa harus kau tenggelamkan sawah dan tanaman padiku
hujan,
sebulan lalu aku merindukanmu
untuk menggarap sawahku
tapi kini, kau telah menenggelamkan sawah dan tanaman padiku
padi yang baru saja aku semaikan
kini aku benar-benar mengharapkan matahari
karena para pejabat, hanya pandai berceramah
kita akan bantu sawah yang kebanjiran
kita akan bantu dengan benih yang bermutu
mereka juga mengatakan, bahwa kita akan swasembada beras
kita akan swasembada pangan
aku tersenyum kecut mendengar ocehannya
coba saja kau tanami sawah-sawah dan kau wujudkan swasembada pangan
coba saja,
kalau kami para petani tlah enggan tuk kembali menanam
coba saja kau wujudkan
batinku
Jepara, 1 Februari 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)